Minggu, 20 Juli 2014

Wanita Dewasa Tidak Ramah Lingkungan

Secara fitrah manusia cinta alam. Lihat anak kecil yang belum terkontminasi orang dewasa, mereka suka di alam terbuka, lihat kucing buruk pun ingin di belai sayang. Anak-anak senang jika diajak ke kebun binatang maupun bermain di alam terbuka diantara pepohonan dan gemericik air, bahkan air kotor sekalipun. Orang dewasa lain lagi, suka alam untuk dikuasai.
Semakin besar, kecintaan pada alam semakin berkurang, kebutuhan hidup seperti mengalahkan kecintaan pada alam. Menurutku kecintaan pada alam sebenarnya tidak hilang dengan sendirinya, tetapi diajarkan oleh orang dewasa terutama orang tua. Lihatlah orang-orang pedalaman, suku terasing yang belum tersentuh teknologi. Mereka berganung pada alam dan menjaganya. Mengambil seperlunya, tidak seperti manusia moderen yang mengambil sebanyak-banyaknya. Orang tua sering kawatir sehingga melarang anaknya main dialam terbuka, tidak boleh main kotor-kotoran, main air, memegang kucing tak terurus bahkan mengajarkan untuk berteriak marah saat ada kucing liar masuk ke rumah. Mengajarkan bahwa kecoak, cacing, ulat dan hewan liar lain sebagai hewan menakutkan. Terkikislah fitrah manusia.
Sejak bayi karena peran orang tua, terutama ibu anak sekarang telah ikut merusak hutan. Setiap bayi amerika pada usia 4 tahun telah menghabiskan 10 pohon untuk diapers mereka, sedangkan di alam diapers butuh waktu 500 tahun untuk terurai. Orang Indonesia sekarang telah mulai tertular budaya ini.
Wanita dewasa sekarang juga lebih senang menggunakan pembalut sekali pakai. Pembakut sama seperti diapers, butuh waktu ratusan tahun untuk terurai. Jika diapers dan pembalut butuh waktu 500 tahun untuk terurai bayangkan puluhan tahun yang akan datang, bumi akan penuh sampah-sampah menjijikkan.
Penggunaan pembalut yang kurang berkualitas juga disinyalir menjadi penyebab bertambahnya penderita kanker servik/mulut rahim. Dari penelitian setiap milimeter persegi pembalut yang telah dipakai dua jam mengandung lebih dari seratus bakteri. Sekadangkan kita rata-rata menggunakan pembalut dalam kurun waktu 6 jam, tentu jumlah bakterinya telah berlipat ganda.
Saat ini Amerika sudah bersiap untuk mendaur ulang pembalut dengan hasil yang katanya telah memenuhi standar higiene. Tapi tidaklah mudah merubah merubah opini publik bahwa produk ini menjijikkan. Apakah juga benar-benar higienis? Menurutku sampah pembalut bisa termasuk limbah b3 (bahan berbahaya dan beracun) karena mengandung darah, apalagi darah kotor. Apa pada daur ulang bisa menjamin produknya bebas dari bakteri dan virus berbahaya? Bukan hanya bakteri yang hidup pada pembalut tapi juga bakteri dan virus yang hidup di darah manusia atau yang bisa menular lewat darah.
Berapa bayak sampah yang telah kita sumbang untuk merusak habitat manusia?

Baca juga

Tidak ada komentar:

Posting Komentar