Kamis, 03 Juli 2014

Sekawanan Kuntul


Bukan sebuah pemandangan biasa, burung bangau kecil atau biasa disebut kuntul beterbangan dan mencari makan di persawahan desa. Bagian dari migrasi burung yang hanya terjadi dua kali setahun. Setiap pergantian musim, burung dan beberapa hewan lain akan melakukan migrasi ke daerah lain yang lebih sesuai. Hewan-hewan ini mampu melintasi jarak ribuan kilometer, bahkan lintas benua dan selalu menemukan jalan ke tujuan ataupun jalan pulang yang disebut kemampuan ekolokasi.

Hari ini aku masih terpesona dengan puluhan burung kuntul di area persawahan selatan saluran Boro, desa Cengkawakrejo. Beberapa gerombol burung putih bersih ini terbang dan berhenti di persawahan untuk mencari makan. Bukan untuk pertama kalinya pemandangan ini kulihat, mungkin sudah puluhan kali. Bagaimana aku tidak takjub dengan satwa liar ini, mereka tetap saja putih bersih walau sering di lumpur.
Disini hanya tempat singgah mereka, entah dimana mereka tinggal ataupun tujuan mereka. Jumlah kawanan yang semakin menyusut, sampai kapan kalian akan bertahan? Sepuluh tahun lalu, saat masih SMA aku masih melihat bangau besar diantara kuntul-kuntul itu dengan perasaan sama, takjub. Saat aku kecil ribuan bahkan jutaan burung ini biasa terbang melintasi angkasa saat pergatian musim. Beberapa burung akan tertinggal dan nampak hinggap di dahan-dahan pohon di kebun kosong depan rumah.

Formasi terbang yang unik, seperti anak panah dengan arah barat daya ke timur laut atau sebalikya. Aku kecil berpikir supaya dapat terbang secepat anak panah, maka harus membentuk anak panah kartun banget lah hehehe.. sekarang aku tlah tau apa yang mereka inginkan dengan migrasi dan formasi itu. Ternyata untuk menghemat energi, burung barisan kedua akan terlindung dari angin dan mendapat energi angkat dari kepakan sayap burung nomor satu, burung nomor tiga mendapat hal yang sama dari burung nomor dua dan seterusnya, jika burung pertama lelah dia akan menuju barisan belakang dan posisinya digantikan oleh burung lainnya. Ditempat-tempat tertentu mereka akan singgah untuk meulihkan tenaga dan mencari makan, sungguh beruntung daerahku menjadi salah satu rumah singgah mereka. Petani pun tak pernah mengusik mereka karena memang tidak mengganggu, bahkan menguntungkan kaarena burung-burung ini juga memangsa siput yang merusak padi. Maha besar Allah yang menciptakan burung dengan kemampuan ekolokasi dan formasi anak panah. Dulu kukira kawanan itu kejam meninggalkan beberapa burung lemah diperjalanan, kenapa mereka tidak membantu yang lemah atau menambah waktu istirahat? Ternyata perhitungan mereka sangat tepat, jika mereka menambah waktu mereka akan tiba terlambat dan bisa berakibat fatal, musnahnya seluruh spesies mereka.

Akankah anak cucu kita masih melihat kawanan burung kuntul? Atau ini hanya akan menjadi sebuah cerita? Semua ditangan kita akan tetap membiarkan burung-burung liar ini menjadi begian anak cucu kita atau hanya tinggal dongeng pengantar tidur, itupun kalau kita masih mau membudidayakan budaya mendongeng, atau mungkin semua akan musnah ditelan jaman.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar