Selasa, 04 Juni 2013

Balon - Balon di Langit

belajar menuliskan materi pembelajaran dalam kemasan lain:

Balon-Balon di Langit

Siapa tak kenal balon udara? Hampir setiap ada perayaan, bahkan reklame – reklame di perkotaan banyak yang menggunakan balon udara. Oiya balon isinya udara lah, masak isi air. Bahkan gelembung air juga berisi udara (apa hubungannya dengan balon?). Kalau balon yang berisi udara yang biasa kita tiup atau kita pompakan udara Cuma biasa disebut balon. Balon udara itu balon yang dapat terbang, terbang melayang di udara. Hebat ya, balonya bisa terbang? Kok balon yang kita tiup tidak bisa terbang?

“Ibu, ibu, Ruli mau beli balon.” Rengek Ruli, adikku yang masih duduk di bangku pra sekolah.
“Bukannya kemarin sudah dibelikan ayah balon? Balonnya saja masih ada yang belum kakak tiup, capek kakak harus selalu meniupkan balon untukmu.” jawabku membujuk, setiap pergi ke pasar dengan adikku selalu minta balon toh akhirnya balon itu pecah sia – sia.
“Beda kak, bolon yang itu bisa terbang, mengapung di udara dan kakak gak perlu meniupnya.” Kilah Ruli.Waduh nih anak makin pandai saja, batinku (adeknya siapa dulu?).
Saya mengalah juga, “Ya udah nanti kakak tiupkan balon lagi, gimana?”
“Gak mau, gak mau. Ruli mau balon yang bisa terbang”
“sudah-sudah ibu belikan Ruli balon, tapi Ruli gak usah beli bakso ya?” ibu akhirnya memberikan solusi.
“Ya, ibu Ruli gak jadi beli balon deh!” adikku membatalkan niatnya membeli balon demi mendapatkan makanan kesukaannya walaupun dengan bibir manyun.
“Dikucir saja bibir adek bu”, godaku sambil tetawa melihat Ruli cemberut.
Ibu memang ibu juara 1. Beliau selalu mempunyai cara halus untuk menolak permintaan anaknya tanpa mengatakan tidak boleh. Mengajarkan segala sesuatu butuh kompensasi.

Capek rasanya menemani ibu berbelanja, kadang mau protes juga kok selalu saya yang harus membantu membawa barang belanjaan. Tapi saya sadar ibu gak mungkin membawa semua belanjaanya sendiri. Pernah suatu saat saya mengeluh dan akhirnya ibu mengurangi belanjaannya.
Tau gak teman-teman yang gak jadi ibu beli adalah jajan untukku dan adikku,
“oh no‼ gimana kalau ibu gak jadi beli sayur saja?” Saranku. Ibu hanya bertanya, “trus besok kita sarapan dengan apa?”
Tanpa sepatah kata bantahan langsung kuambil kantong belanjaan dari tangan ibu.

“Kakak, kakak, ini balonnya ayo tiup!” adikku datang membuyarkan lamunaanku.
“Besok aja lah, kakak lelah”
“ kakak kan udah janji, tiupin bolon dong”.
“Ada apa ribut-ribu?” ayah yang baru pulang bekerja menghampiri kami.
Ruli segera menjelaskan peristiwa tadi siang.
Ayah lalu meminta balon tersebut. “ayah baru pulang kerja, kokkalian pada ribut?” ibu datang membawakan teh hangat untuk Ayah.
“ gak papa Bu, biar ayah yang membuat balonnya mengembang” jawab Ayah sambil mengupas jeruk.
“walah bu, jeruknya asam sekali”
“itu tadi baru beli di pasar, padahal yang ibu cicipin manis.” Ibu tersenyum malu.
“dari pada jeruknya terbuang sia-sia kita gunakan untuk meniup balon aja yuk?” usul ayah.
“Mana bisa jeruk untuk neniup balon?” jawabku heran.
“Ayo kita buktikan. Rian kamu kan dah kelas 7, masa gak tau kalau jeruk bisa membuat balon mengembang? Emangnya kamu di sekolah belajar apa saja?”
“pelajaran meniup balon kan adanya di TK dan pakai mulut atau pompa bukannya pakai jeruk yah”. Bukannya saya membantah ayah, tapi rasanya memang gak ada pelajaran SMP tentang meniup balon dengan jeruk. Ayah aneh-aneh saja.
“Sudah belajar tentang perubahan fisika dan perubahan kimia belum?” tanya ayah.
“Sudah yah”, spontan kujawab.
“ coba kamu sebutkan perubahan apa saja yang menyertai perubahan kimia?”
“ kalau tidak salah, timbul endapan, terbentuk gas, perubahan suhu dan …..” jawabku terbata-bata
“ jawabanmu benar, dan yang terkhir perubahan suhu”, ayah membesarkan hatiku.
“Terus apa hubungannya dengan jeruk dan balon?” tanyaku belum mengerti.
“Apa isi dari balon?” ibu menimpali percakapan kami.
“Udara bu‼”, Ruli juga ikut-ikutan menjawab.
Ayah : “betul, betul. Isi balon adalah udara. Apa wujud udara?”
“Gas, ayah”. Jawabku mantap, saya mulai bisa menebak hubungan antara balon, jeruk dan reaksi kimia.
“Bagus, ayah kira kamu telah mengerti apa yang akan kita lakukan dengan jeruk dan balon ini.”
“Siap ayah, biyar saya saja yang melakukan.” Saya langsung berlari ke dapur dan kembali dengan membawa botol, perasan jeruk, karet gelang, sendok, torong dan soda kue dan segera mengambil balon Ruli. Sementara Ruli hanya terbengong-bengong melihat bawaanku.
“Apa yang akan kak Rian lakukan pada balonku?” Ruli cemas melihat tingkahku.
“Sudah liat saja, katanya pingin kakak tiupkan balon?”
Sambil tetap harap – harap cemas Ruli jongkok di sebelahku.
“Ayo bantu kakak, kamu masukkan soda kue ke dalam balon dengan sendok ini dan kakak akan memeras jeruk lalu kakak masukkan ke dalam botol.” Kami lakukan tugas masing-masing, kemudian memasang mulut balon pada mulut botol dan mengikatnya dengan karet gelang. “ ayo dik berdirikan balon supaya soda kuenya masuk ke dalam botol.” Meskipun bingung ruli tetap mematuhi perintahku.
“kakak, ayah, ibu, lihat air jeruknya mendidih!” teriak Ruli.
“itu bukan mendidih nak, tapi muncul gas atau udara. Kamu ingat saat membantu ibu membuat kue? Adonan kue yang kecil berubah menjadi besar karena terisi udara.” Jawab ibu.
“Iya-iya, ibu juga pakai soda kue. Lihat balonnya mulai membesar!” Ruli kegirangan.
“ini balonnya sudah ditiup sama botol” kuserahkan balon yang telah mengembang kepada Ruli.
“kakak, kenapa balonnya jadi besar?”
“Begini, soda kue yang bercampur dengan asam akan mengalami reaksi kimia dan menghasilkan gas. Namanya gas carbon dioksida (CO2), karena gas ringan maka gas akan naik dan mengisi balon sehingga balon mengembang.”
“Bagus Rian, kamu mengerti sekarang belajar IPA bukan hanya menghafal dan menghitung dengan rumus-rumus tapi juga akan berguna dalam kehidupan sehari-hari.” Puji ayah.
Saya hanya tersipu malu mendengar pujian ayah, padahal di dalam hati bangga bingin teriak, horeeee!‼
“ayah tapi kenapa balonnya gak bisa terbang seperti balon di pasar tadi?” Ruli kembali bertanya.
“kamu tahu kenapa Riyan?”, saya hanya menggeleng.
“balon yang ini berisi gas CO2, sedang balon yang di pasar kemungkinan berisi gas helium (He). Gas CO2 memiliki massa jenis lebih besar dari udara, sedangkan gas Helium memiliki massa jenis yang lebih kecil dari dari udara. Zat dengan massa jenis kecil akan naik ke atas, sama seperti kapal yang besar bisa mengapung di air sedangkan paku yang kecil malah tenggelam. Rian massa jenis itu apa?”
“Lupa, ayah. Sebentar saya ambil buku dulu!”, ketahuan deh, saya belum belajar hehe.
Massa jenis atau density/kerapatan (ρ) adalah pengukuran massa (m) per satuan volume (v) benda, massa jenis merupakan salah satu karakteristik benda karena benda yang sama akan memiliki massa jenis yang sama tanpa peduli berapapun besarnya. Atau biasa dituliskan . Benda akan terapung jika massa jenisnya lebih kecil dari massa jenis tempatnya berada (misal air atau udara) dan tenggelan jika massa jenisnya lebih besar dari medium. Jawabku panjang lebar, tentunya dengan membaca buku IPA.
“Ayo sekarang kalian belajar dulu, terutama kamu Rian sebentar lagu ulangan kenaikan kelas dan kamu juga Ruli kamu kan mau masuk SD. Dua bulan lagi lebaran. Besok libur lebaran kita ketempat kakek di Wonosobo. Setiap menjelang lebaran di sana ada perayaan dengan melepaskan balon udara. Balon udara yang dipertunjukkan dibuat oleh warga desa-desa di kabupaten wonosobo. Kalian akan melihat kalau balon terbang tidak harus berisi gas helium, bahkan udara biasapun bisa membuat balon udara.”
Horee, kita akan libur lebaran ke tempat kakek‼ terima kasih ayah, terima kasih ibu”, saya dan Ruli serentak bersorak gembira.

Dua bulan kemudian, di lapangan Sapuran, Wonosobo.
Lapangan yang berada di depan pasar Sapuran penuh dengan warna-warni balon udara yang akan diterbangkan. Saya sangat heran balon-balon udara yang biasa saya lihat di Jakarta dibuat oleh pabrik, sementara di sini dibuat secara gotong royong oleh warga dengan menggunakan bahan sejenis plastik. Setiap daerah berusaha membuat balon sebagus mungkin. Lebih menarik lagi melihat cara mereka menerbangkan balon. Bukan mengisi balon dengan gas helium seperti balon-balon yang biasa dijual melainkan mengisi balon dengan asap. Jangan dibayangkan dengan memasukkan asap ke dalam balon ya? Bagian bawah balon diberi api dan asapnya akan masuk kedalam balon.
“Om kok balonnya malah dibakar?” Tanya adikku pada seorang bapak yang tengah memanasi balon.
“bukan dibakar dik tapi Cuma memanasi udara di dalam balon supaya balonnya mengembang dan dapat terbang.” Jawab orang tersebut. Adekku hanya geleng-geleng tidak mengerti.
“ayah kenapa harus dipanasi supaya terbang?” aku ikut-ikutan bertanya.
“Rian kamu kan sudah belajar bagaimana sifat benda yang dipanasi. Benda yang dipanasi akan memuai atau volumenya bertambah kecuali pada air disaat suhunya 0-4 derajat selsiu yang malah menurun. karena volumenya bertambah sementara massanya tetap maka massa jenisnya akan berkurang sehingga lebih kecil dari udara disekitarnya dan balon akan bergerak ke atas. Sementara air karena sifat air yang tidak lazim maka disebut anomali air. Anomali air ini juga berguna lo! Karena saat suhu 0-5 derajat celsius volumenya menurun maka massa jenisnya akan bertambah sehingga es akan mengambang di permukaan. Coba bayangkan bagaimana nasip makhluk hidup di bawah air jika es tidak mengapung, tentu saat musim dingin mereka akan mati beku.” Ayah menjelaskan, seperti bu guru di sekolah saja.
Ternyata banyak sekali pelajaran IPA yang ada di sekitar kita, kita hanya perlu membuka mata dan membuka telinga lebar – lebar. Belajar IPA juga membuatku semakin mengenal kebesaran Tuhan, Allah telah menciptakan bumi, jagat raya dan isinya dengan kesempurnaan. namanay IPA 'ilmu Pengetahuan Alam', kita tinggal melihat alam di sekitar kita.
Saya harus lebih banyak lagi belajar dan memuji kebesaran Ilahi.





Tidak ada komentar:

Poskan Komentar