Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kuliner. Tampilkan semua postingan

Minggu, 04 Mei 2014

Nggragase Bocah Ndeso


Apa bahasa Indonesia kata nggragas? Saya belum menemukan kata-kata yang pas. Intinya ngragas itu makan apa saja, tidak peduli layak dimakan atau tidak. Sebenarnya makanan itu tetap layak dimakan, cuma sekarang banyak alternatif makanan lain yang dikatakan lebih layak. Walau menurutku makanan yang sekarang dikatakan layak juga banyak yang sebenarnya tidak layak, malah luwih ngragas maneh. Contoh sederhana, sayuran mulus dikatakan lebih layak konsumsi dari pada yang bolong-bolong sisa dimakan ulat. Nyatanya sisa ulat lebih layak konsumsi, biasanya lebih sehat karena bebas pertisida, sementara yang mulus kandungan pestisidanya tinggi jadi gak layak konsumsi. Mosok uler wae ora doyan kok uwong malah seneng? Atau makanan berpengawet, bisa bertahan tanpa busuk dalam beberapa tahun, sebelum kadaluwarso layak dikonsumsi. tapi apa benar-benar layak? Jamur, bakteri, lalat tak sudi berdekatan dengan makanan tersebut tapi manusia malah mengagung-agungkannya (my opini).
Namanya juga bocah ndeso, sering main blusukan dan makan yang aneh-aneh. Tahu mandingan? Sejenis lamtoro/petai cina tapi ukurannya lebih kecil. Sering juga disebut lamtoro lokal. Buah yang masih muda dimakan dengan kulitnya. Kalau main sangunya garam. Buah mendingan digulung dengan garam ditengahnya lalu dimakan, rasane sepat. Kalau buah yang sudah tua dikupas dan dimakan bijinya, sedikit agak pedas. Buah lamporopun dimakan dengan cara seperti buah mandingan. Cuma makan lamtoro tidak berani banyak-banyak, kaena beracun. Pernah suatu saat bapak membawa ramban lamtoro (untuk makan kambing), pada ranting lamtoro terdapat banyak buah. Sambil duduk didekat kandang makan lamtoro, tidak terasa habis banyak lamtoro hasilnya pusing, mual dan muntah-muntah.
Babal kucing, tau babal? Babal adalah bunga nangka, babal kucing adalah bunga nangka berukuran kecil yang tidak akan menjadi buah. Anak yang besar di lingkungan dengan banyak pohon nangka tahu persis mana bunga nangka yang akan berkembang menjadi buah dan mana yang tidak (babal kucing). Babal kucing juga biasa dimakan dengan garam. Podo wae rasane sepet. Beda dengan lamtoro yang menyebabkan sakit, kalau babal malah bisa menyembuhkan sakit diare dan herpes.
Babal kucing juga enak dibuat rujak bebek. Babal, buah pace muda, buah pisang klutuk muda, wuni, dan buah-buahan lain dipotong kecil-kecil lalu ditumbuk dengan bumbu cabe, gula jawa, asam, dan garam. Enak pol!
Pace/mengkudu, belakangan ini tenar sebagai obat. Jauh sebelum terkenal sebagai obat orang desaku sudah biasa mengkonsumsi sebagai minuman. Buah yang matang baunya busuk, saya tidak suka. saya hanya doyan yang muda untuk rujak.
Pisang klutuk, kalau pisang tentu tidak asing ditelinga kita. Pisang klutuk biasanya ditanam untuk diambil daunnya. Konon daun pisang ini paling bagus untuk bungkus makanan. Buahnya sekilas sama dengan buah pisang biasa. Pisang klutuk muda memang biasa untuk rujak bebek. Kalau yang tua, rasa buahnya manis tapi sayang bijinya banyak sekali. Biasanya buah pisang ini tidak dikonsumsi, kalau sudah tua di buang atau paling banter buat pakan burung. Tapi namane wae bocah nggragas, kalau sedang bermain dan menemukan buah pisang klutuk matang ya kami lahap. Walau masih di pahon kami ambil yang punya tidak bakal merasa kehilangan.
Wuni, buah dengan rasa masam. Pohonnya merambat baik buah maupun daunnya mirip dengan sirih, kemukus,maupun merica. Buah muda berwarna hijau dalam satu tangkai ada banyak buah kecil-kecil, sedikit lebih besar dari merica. Semakin tua warnanya akan semakin merah dan rasanya tetap sama, masammmmmm……
Jangankan wuni yang berasa masam, buah asam pun kami makan. Lengkap dari asam muda sampai asam tua. Bahkan daun mudanya pun juga kami makan. Daun buah asam rasanya masam segar. Kalau asam muda kami makan sama klungsu-klungsunya (biji asam). Daun kedondong juga biasa saya makan rasanya masam segar.
Krontel atau mangga muda, jangan bayangkan mangga yang biasa untuk rujaan. Ini mangganya masih bayi paling hanya segede kemili. Rasanya jelas asam, untuk mengurangi rasa asam dimakan dengan garam. Makan dengan kulit-kulitnya.
Blimbing wulung yang super duper masam juga tak luput dari nggragasnya kami. Didekat sekolah ada yang punya pohon blimbing wulung, pulang sekolah saat panas-panas sering minta buahnya dan sensasi asamnya dinikmati sambil berjalan pulang.
Kok dari tadi makanannya gak ada yang enak? Ada kok, yang enak buat belakangan hehehe…
Cimplukan, anggur ndeso bahasa kerene. Buah sebesar kelereng dengan kelopak buah tetap menutupi buah hingga matang, termasuk herbacius, tanaman semusim. Buah muda berwarna hijau rasanya pahit, kalau sudah tua warnanya kuning dan manis. Cimplukan termasuk tumbuhan semusin dan banyak tumbuh liar di kebun-kebun ataupun tepi sungai. Kalau tempatnya kering saat pohonnya mati buah cimplukan bisa bertahan tidak busuk. Sekarang cimplukan juga banyak digunakan untuk obat.
Buah salam, daun salam biasa digunakan untuk bumbu dapur. Buahnya bulat kecil-kecil. Saat muda hijau, terus menjadi merah, terus menjadi ungu. Kalau sudah berwarna ungu rasanya manis. Dulu tetangga belakang rumah memiliki pohon salam besar, kalau musim berbuah kami berebu tbuah yang jatuh jika tertiup angin. Pemilik pohonpun sering berbaik hati memetikkan buah yang telah tua. Karena buahnya kecil-kecil biasanya langsung dipatahkan dengan ranting-rantingnya.
Selaput buah kopi. Kalau metik kopi, kulitnya dihisap-hisap, rasanya manis. Begitu juga selaput buah kakau/coklat, selaputnya dihisap-isap rasanya manis. Di daerahku tidak ada kebun kopi maupun kakau, kedua buah ini hanya ada beberapa buah di kebun penduduk. Asal buah dah matang kami boleh mengambil selaput buahnya tetapi bijinya kami tinggal di bawah pohonnya. Jadi nanti kalau pemilik pohon datang tinggal mengambil buah yang telah bersih dibawah pohonnya. Kami menikmati manisnya, petani menikmati bijinya. Semua merasa untung.
Duwet, arang jawa barat menyebutnya jamlang. Kalau sudah matang sebesar ruas jari, warna unggu dan rasa manis. Dulu banyak pohon duwet di kubun-kebun penduduk, kalau pas musim pulang sekolah pada berburu buah yang jatuh.
Kutilayu, saya tak menemukan buah ini lagi. Warna ungu dengan rasa manis sepat. Pohom kutilayu tingginya sekitar satu meteran, biasa digunakan sebagai pagar pembatas pekarangan. Pohon ini disukai hewan lembing, sejenis serangga yang mengeluarkan aroma sangit.
Jambu liar, jenis jambu air (kalau lihat gambar aneka jambu mirp dengan jambu mawar). Biasanya ditaman sebagai pagar. Buah berwarna hijau, ukurannya kecil dengan biji besar jadi bagian buah yang dimakan sangat sedikit dan rasanya tidak jauh beda dengan rasa rambu air yang lain. Ada juga jambu bol, kalau makan jambunya tidak aneh. Saya dulu tidak hanya makan jambunya tapi juga makan benang sarinya yang telah rontok. Benang sari yang masih segar diambili dan dimakan tanpa dicuci, rasanya sedikit asam. Lebih enak benang sari jambu bol merah dari pada yang putih.
Apa lagi ya… oya menghisap madu dari berbagai macam bunga. Entah namanya bunga apa saja, yang saya tahu namanya hanya bungga sepatu dan soka, terutama bunga berbentuk terompet dipetik, tidak dengan kelopaknya terus dihisap bagian bawahnya, rasanya manis. Jumlah madunya juga tidak sampai setetes, tapi bukankah lebah bisa mengumpulkan madu-madu itu hingga berliter-liter?
Kalau berburu buah jatuh saya lebih suka buah sisa kelelawar. Biasanya rasanya lebih enak dari buah yang biasa. Sebenarnya jorok ya?
Bukan Cuma dari hasil tumbuhan dari hewan juga ada. Kalau main di sungai biasa menangkap udang. Taruh saja udangnya di atas batu di pinggir kali yang terkena panas. Setelah warnanya menjadi merah artinya udang itu sudah matang, tinggal dimakan deh.
Saat main-main di sawah kadang menemukan telur burung kecil/emprit, taruh saja di ketiak. Gak sampai seperempat jam telurnya telah matang. Jorok memang, tapi nikmat…
Ulat turi, ulatnya gede. Lebih gede dari ibu jari. Ulat ini tidak jauh beda dengan ulat pada umumnya, tidak berbulu dengan tubuh lembek berair. Diolah dengan cara di bakar, untuk yang takut ulat berani mencoba? Kalau orang tua malah ada makanan yang lebih ekstrim (saya tidakmau) yaitu gendon atau ratu rayap ditelam bulat-bulat, kadang juga cindil tikus (anak tikus yang masih bayi dan berwarna merah) ini juga dimakan hidup-hidup.
Selain nggragas kadang nakal juga. Saat SD disekitar lapangan desa “alang-alang Ombo” adalah kebun tebu, kadang pelajaran olah raga dilakukan di lapangan tersebut. Setelah berpanas-panas dan berkeringat ria saatnya menikmati manisnya tebu. Sambil pulang ke sekolah mblusuk kebon dan mematahkan beberapa pohon tebu, lalu tancap gas sambil menikmati hasil curian. Kalau tidak ada mandor tebu kami bisa jalan santai saja tak pertu olah raga tambahan (lari).
Ada juga orang yang sangat pelit, punya pohon sawo dengan buah yang lebat tapi diminta tidak boleh. Akhirnya kami curi beramai-ramai, buahnya kami jatuhkan dengan ketapel. Selain ketapel kami juga sering menjatuhkan buah di kebun tetangga dengan “ngamper” yaitu melempar buah dengan potongan kayu kurang lebih sepanjang 25 cm (belajar konsentrasi dan ketangkasan).
Pohon jambu bangkok simbah saya ((adek simbah) juga tak luput dari jarahanku. Habis simbah pelit, jambunya berbuah lebat sampai banyak yang jatuh tapi anak-anak dilarang metik. Saya ndablek, kalau sedang sepi, jambunya saya petiki. Setelah dapat banyak baru masuk ke rumah dan bilang sudah metik jambu. Pasti kena omel, omelan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Besoknya diulangi lagi dan simbah yang mosan ngomel. Bahkan berubah 180 derajat! Kalau buahnya banyak dan saya tidak datang-datang beliau yang datang kerumah menanyakan kabarku. beliau khawatir saya sakit jadi tidak bisa mencuri jambunya (GR hehe).
Kalau pas main dan merasa haus, juga minum seadanya. Dekat sumur ya ambil air sumur langsung di minum, dekat kalen/saluran air juga ambil di situ. Kalau sedang di sawah tinggal minum air sawah, sedang di sungai ya minum air sungai. Biarpun gragas, tapi tetap sehat dan banyak pengalaman.

Mendapat kesempatan merasakan nikmatnya biji salam jauh lebih berharga dari pada kesempatan merasakan nikmatnya burger. Mungkin suatu saat buah salam akan punah tak ada lagi kesempatan menikmati sensasi rasanya. Sedangkan burger dari tahun ke tahun rasanya akan terus mengalami penyempurnaan. Saya bangga dengan negri kaya ini…. Flora faona eksotis, saya merindukanmu.NGGRAGASE BOCAH NDESO
Apa bahasa Indonesia kata nggragas? Saya belum menemukan kata-kata yang pas. Intinya ngragas itu makan apa saja, tidak peduli layak dimakan atau tidak. Sebenarnya makanan itu tetap layak dimakan, cuma sekarang banyak alternatif makanan lain yang dikatakan lebih layak. Walau menurutku makanan yang sekarang dikatakan layak juga banyak yang sebenarnya tidak layak, malah luwih ngragas maneh. Contoh sederhana, sayuran mulus dikatakan lebih layak konsumsi dari pada yang bolong-bolong sisa dimakan ulat. Nyatanya sisa ulat lebih layak konsumsi, biasanya lebih sehat karena bebas pertisida, sementara yang mulus kandungan pestisidanya tinggi jadi gak layak konsumsi. Mosok uler wae ora doyan kok uwong malah seneng? Atau makanan berpengawet, bisa bertahan tanpa busuk dalam beberapa tahun, sebelum kadaluwarso layak dikonsumsi. tapi apa benar-benar layak? Jamur, bakteri, lalat tak sudi berdekatan dengan makanan tersebut tapi manusia malah mengagung-agungkannya (my opini).
Namanya juga bocah ndeso, sering main blusukan dan makan yang aneh-aneh. Tahu mandingan? Sejenis lamtoro/petai cina tapi ukurannya lebih kecil. Sering juga disebut lamtoro lokal. Buah yang masih muda dimakan dengan kulitnya. Kalau main sangunya garam. Buah mendingan digulung dengan garam ditengahnya lalu dimakan, rasane sepat. Kalau buah yang sudah tua dikupas dan dimakan bijinya, sedikit agak pedas. Buah lamporopun dimakan dengan cara seperti buah mandingan. Cuma makan lamtoro tidak berani banyak-banyak, kaena beracun. Pernah suatu saat bapak membawa ramban lamtoro (untuk makan kambing), pada ranting lamtoro terdapat banyak buah. Sambil duduk didekat kandang makan lamtoro, tidak terasa habis banyak lamtoro hasilnya pusing, mual dan muntah-muntah.
Babal kucing, tau babal? Babal adalah bunga nangka, babal kucing adalah bunga nangka berukuran kecil yang tidak akan menjadi buah. Anak yang besar di lingkungan dengan banyak pohon nangka tahu persis mana bunga nangka yang akan berkembang menjadi buah dan mana yang tidak (babal kucing). Babal kucing juga biasa dimakan dengan garam. Podo wae rasane sepet. Beda dengan lamtoro yang menyebabkan sakit, kalau babal malah bisa menyembuhkan sakit diare dan herpes.
Babal kucing juga enak dibuat rujak bebek. Babal, buah pace muda, buah pisang klutuk muda, wuni, dan buah-buahan lain dipotong kecil-kecil lalu ditumbuk dengan bumbu cabe, gula jawa, asam, dan garam. Enak pol!
Pace/mengkudu, belakangan ini tenar sebagai obat. Jauh sebelum terkenal sebagai obat orang desaku sudah biasa mengkonsumsi sebagai minuman. Buah yang matang baunya busuk, saya tidak suka. saya hanya doyan yang muda untuk rujak.
Pisang klutuk, kalau pisang tentu tidak asing ditelinga kita. Pisang klutuk biasanya ditanam untuk diambil daunnya. Konon daun pisang ini paling bagus untuk bungkus makanan. Buahnya sekilas sama dengan buah pisang biasa. Pisang klutuk muda memang biasa untuk rujak bebek. Kalau yang tua, rasa buahnya manis tapi sayang bijinya banyak sekali. Biasanya buah pisang ini tidak dikonsumsi, kalau sudah tua di buang atau paling banter buat pakan burung. Tapi namane wae bocah nggragas, kalau sedang bermain dan menemukan buah pisang klutuk matang ya kami lahap. Walau masih di pahon kami ambil yang punya tidak bakal merasa kehilangan.
Wuni, buah dengan rasa masam. Pohonnya merambat baik buah maupun daunnya mirip dengan sirih, kemukus,maupun merica. Buah muda berwarna hijau dalam satu tangkai ada banyak buah kecil-kecil, sedikit lebih besar dari merica. Semakin tua warnanya akan semakin merah dan rasanya tetap sama, masammmmmm……
Jangankan wuni yang berasa masam, buah asam pun kami makan. Lengkap dari asam muda sampai asam tua. Bahkan daun mudanya pun juga kami makan. Daun buah asam rasanya masam segar. Kalau asam muda kami makan sama klungsu-klungsunya (biji asam). Daun kedondong juga biasa saya makan rasanya masam segar.
Krontel atau mangga muda, jangan bayangkan mangga yang biasa untuk rujaan. Ini mangganya masih bayi paling hanya segede kemili. Rasanya jelas asam, untuk mengurangi rasa asam dimakan dengan garam. Makan dengan kulit-kulitnya.
Blimbing wulung yang super duper masam juga tak luput dari nggragasnya kami. Didekat sekolah ada yang punya pohon blimbing wulung, pulang sekolah saat panas-panas sering minta buahnya dan sensasi asamnya dinikmati sambil berjalan pulang.
Kok dari tadi makanannya gak ada yang enak? Ada kok, yang enak buat belakangan hehehe…
Cimplukan, anggur ndeso bahasa kerene. Buah sebesar kelereng dengan kelopak buah tetap menutupi buah hingga matang, termasuk herbacius, tanaman semusim. Buah muda berwarna hijau rasanya pahit, kalau sudah tua warnanya kuning dan manis. Cimplukan termasuk tumbuhan semusin dan banyak tumbuh liar di kebun-kebun ataupun tepi sungai. Kalau tempatnya kering saat pohonnya mati buah cimplukan bisa bertahan tidak busuk. Sekarang cimplukan juga banyak digunakan untuk obat.
Buah salam, daun salam biasa digunakan untuk bumbu dapur. Buahnya bulat kecil-kecil. Saat muda hijau, terus menjadi merah, terus menjadi ungu. Kalau sudah berwarna ungu rasanya manis. Dulu tetangga belakang rumah memiliki pohon salam besar, kalau musim berbuah kami berebu tbuah yang jatuh jika tertiup angin. Pemilik pohonpun sering berbaik hati memetikkan buah yang telah tua. Karena buahnya kecil-kecil biasanya langsung dipatahkan dengan ranting-rantingnya.
Selaput buah kopi. Kalau metik kopi, kulitnya dihisap-hisap, rasanya manis. Begitu juga selaput buah kakau/coklat, selaputnya dihisap-isap rasanya manis. Di daerahku tidak ada kebun kopi maupun kakau, kedua buah ini hanya ada beberapa buah di kebun penduduk. Asal buah dah matang kami boleh mengambil selaput buahnya tetapi bijinya kami tinggal di bawah pohonnya. Jadi nanti kalau pemilik pohon datang tinggal mengambil buah yang telah bersih dibawah pohonnya. Kami menikmati manisnya, petani menikmati bijinya. Semua merasa untung.
Duwet, arang jawa barat menyebutnya jamlang. Kalau sudah matang sebesar ruas jari, warna unggu dan rasa manis. Dulu banyak pohon duwet di kubun-kebun penduduk, kalau pas musim pulang sekolah pada berburu buah yang jatuh.
Kutilayu, saya tak menemukan buah ini lagi. Warna ungu dengan rasa manis sepat. Pohom kutilayu tingginya sekitar satu meteran, biasa digunakan sebagai pagar pembatas pekarangan. Pohon ini disukai hewan lembing, sejenis serangga yang mengeluarkan aroma sangit.
Jambu liar, jenis jambu air (kalau lihat gambar aneka jambu mirp dengan jambu mawar). Biasanya ditaman sebagai pagar. Buah berwarna hijau, ukurannya kecil dengan biji besar jadi bagian buah yang dimakan sangat sedikit dan rasanya tidak jauh beda dengan rasa rambu air yang lain. Ada juga jambu bol, kalau makan jambunya tidak aneh. Saya dulu tidak hanya makan jambunya tapi juga makan benang sarinya yang telah rontok. Benang sari yang masih segar diambili dan dimakan tanpa dicuci, rasanya sedikit asam. Lebih enak benang sari jambu bol merah dari pada yang putih.
Apa lagi ya… oya menghisap madu dari berbagai macam bunga. Entah namanya bunga apa saja, yang saya tahu namanya hanya bungga sepatu dan soka, terutama bunga berbentuk terompet dipetik, tidak dengan kelopaknya terus dihisap bagian bawahnya, rasanya manis. Jumlah madunya juga tidak sampai setetes, tapi bukankah lebah bisa mengumpulkan madu-madu itu hingga berliter-liter?
Kalau berburu buah jatuh saya lebih suka buah sisa kelelawar. Biasanya rasanya lebih enak dari buah yang biasa. Sebenarnya jorok ya?
Bukan Cuma dari hasil tumbuhan dari hewan juga ada. Kalau main di sungai biasa menangkap udang. Taruh saja udangnya di atas batu di pinggir kali yang terkena panas. Setelah warnanya menjadi merah artinya udang itu sudah matang, tinggal dimakan deh.
Saat main-main di sawah kadang menemukan telur burung kecil/emprit, taruh saja di ketiak. Gak sampai seperempat jam telurnya telah matang. Jorok memang, tapi nikmat…
Ulat turi, ulatnya gede. Lebih gede dari ibu jari. Ulat ini tidak jauh beda dengan ulat pada umumnya, tidak berbulu dengan tubuh lembek berair. Diolah dengan cara di bakar, untuk yang takut ulat berani mencoba? Kalau orang tua malah ada makanan yang lebih ekstrim (saya tidakmau) yaitu gendon atau ratu rayap ditelam bulat-bulat, kadang juga cindil tikus (anak tikus yang masih bayi dan berwarna merah) ini juga dimakan hidup-hidup.
Selain nggragas kadang nakal juga. Saat SD disekitar lapangan desa “alang-alang Ombo” adalah kebun tebu, kadang pelajaran olah raga dilakukan di lapangan tersebut. Setelah berpanas-panas dan berkeringat ria saatnya menikmati manisnya tebu. Sambil pulang ke sekolah mblusuk kebon dan mematahkan beberapa pohon tebu, lalu tancap gas sambil menikmati hasil curian. Kalau tidak ada mandor tebu kami bisa jalan santai saja tak pertu olah raga tambahan (lari).
Ada juga orang yang sangat pelit, punya pohon sawo dengan buah yang lebat tapi diminta tidak boleh. Akhirnya kami curi beramai-ramai, buahnya kami jatuhkan dengan ketapel. Selain ketapel kami juga sering menjatuhkan buah di kebun tetangga dengan “ngamper” yaitu melempar buah dengan potongan kayu kurang lebih sepanjang 25 cm (belajar konsentrasi dan ketangkasan).
Pohon jambu bangkok simbah saya ((adek simbah) juga tak luput dari jarahanku. Habis simbah pelit, jambunya berbuah lebat sampai banyak yang jatuh tapi anak-anak dilarang metik. Saya ndablek, kalau sedang sepi, jambunya saya petiki. Setelah dapat banyak baru masuk ke rumah dan bilang sudah metik jambu. Pasti kena omel, omelan masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Besoknya diulangi lagi dan simbah yang mosan ngomel. Bahkan berubah 180 derajat! Kalau buahnya banyak dan saya tidak datang-datang beliau yang datang kerumah menanyakan kabarku. beliau khawatir saya sakit jadi tidak bisa mencuri jambunya (GR hehe).
Kalau pas main dan merasa haus, juga minum seadanya. Dekat sumur ya ambil air sumur langsung di minum, dekat kalen/saluran air juga ambil di situ. Kalau sedang di sawah tinggal minum air sawah, sedang di sungai ya minum air sungai. Biarpun gragas, tapi tetap sehat dan banyak pengalaman.
Mendapat kesempatan merasakan nikmatnya biji salam jauh lebih berharga dari pada kesempatan merasakan nikmatnya burger. Mungkin suatu saat buah salam akan punah tak ada lagi kesempatan menikmati sensasi rasanya. Sedangkan burger dari tahun ke tahun rasanya akan terus mengalami penyempurnaan. Saya bangga dengan negri kaya ini…. Flora faona eksotis, saya merindukanmu.

Kamis, 10 April 2014

Pasar Jenar, Pusat Kuliner tradisional Purworejo

Pasar Jenar, terletak di jalan raya Purwodadi - Purworejo  tepatnya  di desa Jenar, strategis karena kalau naik angkutan umum bisa langsung turun di depannya. Seperrti  umumnya  pasar-pasar tredisional, pasar Jenar mempunyai hari-hari khusus ‘hari pasar’nya  yaitu Minggu, Selasa dan Jum’at. Terus hari biasa gimana? Hari-hari biasa selain hari pasarnya itu disebut ’warungan’ artinya tetap ada orang dagang tapi tak se‘pepak’ atau selengkap hari pasar yang 3 hari itu. Apa yang dijual? Semua ada, dari jajanan tradisional yang langka nan ndesooo, sayuran, buah, gerabah, gula jawa,  sampai baju,  alat dan bibit pertanian, dan hewan ternak. Jika menginginkan produk lautan anda bisa mendapatkan ikan, cumi, udang, kepiting (tergantung musim) dalam kondisi segar hasil tangkapan nelayan pantai selatan.
Pasar Jenar telah mengalami beberapa kali renovasi, dulu sebelum direnovasi lantai bangau-bangau (tempat berjualan yang dibuat agak tinggi) masih berlapis nekel tetapi sekarang sudah berkeramik. Jalan di dalam pasar dulu saat aku kecil hanya berupa batu-batu yang halus disusun landai dan masih tampak tanah-tanahnya sehingga saat musim hujan di dalam pasar pasti becek, tetapi sekarang telah diratakan dengan semen sehingga tidak sebecek dulu. Saat aku kecil di belakang pasar terdapat tanah yang agak lapang, sering kali digunakan untuk pertunjukan layar tancap.
Di wilayah Purwodadi - Bagelen sebenarnya ada 3 pasar tradisional yang cukup besar yaitu: pasar Jenar dan pasar Purwodadi (wilayah Kec. Purwodadi) dan pasar Krendetan (Kec. Bagelen) . Tetapi di antara ketiganya yang paling rame dan masyhur adalah pasar Jenar untuk wilayah Purworejo.   Mengapa? Mungkin karena strategis, terjangkau dan murah. Tidak jaug dari stasiun kereta api Jenar,dan mudah di jangkau dari pusat kota Purworejo. Banyak juga pedagang dan pembeli berasal dari luar kecamatan seperti dari kota Purworejo, Kutoarjo, Banyuurip. Ramee gitu. Bahkan ada pedagang dari kulon progo yang berdagang di pasar jenar.
Yang menjadi incaran utamaku jika ke pasar Jenar adalah jajanan pasar. Makanan khasnya sego peneg atau sekul peneg khas Ngandul. Saya juga gak tau, kenapa untuk wilayah Jenar- Bagelen, makanan ini sangat dinikmati dan sering diomongin oleh perantau . Padahal apa si sego peneg itu? Nasi, sayur nangka muda bumbu lodeh biasanya dibungkus daun jati, tempe-ayam, telur   bumbu opor putih yang dapat kita buat sendiri, tetapi akan jadi beda: lebih nyuus kalau itu dimasak ala Ngandul; nama padukuhan di desa Jenar Wetan. Dan  konon  resepnya hanya orang Ngandul turun temurun yang tahu! Yang akrap dengan nasi peneg juga orang-orang purworejo sebelah kidul (selatan), kalau orang lor (utara) banyak yang tidak tau apa itu nasi penek.
Ada juga cerita tentang terjadinya peneg Ngandul ini, konon katanya modifikasi dari gudeg Jogja yang coklat hitam rasanya manis menjadi putih-merah dengan rasa  pedes dan gurih. Memang tak bisa disangkal  karena Bagelen (Purworejo) dahulu adalah wilayah Kraton Mataram, bahkan nama Bagelen  lebih top dari nama Purworejo, karena dulu nama sebuah kabupaten di  wilayah Mataram.
Lanting jenar, Purworejo memang terkenal dengan lanting, ada banyak farian lanting di kota kelahiranku ini. Cemilan berbahan dasar ketela, sebagian besar dari pati ketela atau parutan ketela yang dibentuk cincin ataupun angka delapan yang digoreng kering dengan rasa renyah. Berwarna putih atau diberi pewarna merah, dan sekarang telah muncul dengan berbagai rasa. Lanting jenar tetap punya tempat tersendiri di lidahku, terbuatnya bukan dari pati tela murni tapi justru trempos (ampas sisa pembuatan pati) sehingga rasanya kecoklatan dan sangat keras terutama jika masih berbentuk lingkaran penuh, tapi jika lingkaran telah pecah rasanya sangat renyah. Sifat aneh ini yang dulu sering kugunakan ngerjain teman sewaktu kuliah. Untuk yang belum pernah makan jika aku beri lanting pasti milih yang masih utuh bahkan gak terima jika aku beri remuaan (yang telah pecah) dan akhirnya protes dengan kerasnya lanting yang aku katakan enak. Ada dua jenis lanting Jenar satu ukurannya kecil dan dijual dengan diikat tutus (tali dari serat bambu), sebenarnya bukan diikat tapi disendati (disatukan dengan memasukkan tali ke dalam lubang lanting) aku gak tahu apa bahasa Indonesianya. Yang satunya lagi berukuran besar dan tidak membentuk bulatan tetapi lonjong, biasa dijual kiloan dengan dibungkus plastik.
Clorot, jajanan pasar khas pesisir Purworejo berupa jenang (seperti jeli) dari tepung, kalau jaman dulu biasa pake pati ganyong (Canna sp.) tapi pati ganyong semakin langka sehingga sekarang banyak yang menggunakan tepung terigu, rasanya manis gurih karena mengandung santan dan diberi gula merah. Yang khas dari clorot adalah bungkusnya, terbuat dari janur (daun kelapa muda) yang dibentuk lilitan seperti trompet. Untuk menikmati clorot tidak perlu menbuka bungkusnya, cukup tusuk bungkus dari bagian bawah dan bungkus janur akan melipat dengan sendirinya.
Kue lompong, kue ini sudah jarang ditemukan di pasar Jenar tatapi masih banyak dijual di toko oleh-oleh sepanjang Purworejo, kuenya berwarna hitam dengan bungkus klaras (daun pisang kering), warna hitam pada makanan ini berasal dari pewarna alami daun lompong (batang tanaman sejenis talas) dan juga sari dari abu uman (tangkai padi yang dibakar)
Tempe bengok bacem, sejenis tempe dengan bahan baku biji bengok yang dimasak sengan cara di bacem atau direbus dengan bumbu-bumbu dan gula jawa. Pohon bengok termasuk pohon kacang-kacangan yang merambat dengan daun seperti daun bengkoang. Biji bengok muda berambut halus dan sangat gatal yang biasa sisebut krawe, cara pembuatan tempenya tidak jauh beda dengan pembuatan tempe kedele.
Growol, rasa makanan ini sebenarnya enak tetapi aromanya sangat tidak saya sukai. Jenis makanan fermentasi yang konon sangat baik untuk kesehatan saluran pencernaan. Dibuat dari ketela kupas yang direndam dalam air hingga berbau busuk dan lunak, ketela yang telah lunak kemudian dihancurkan dengan tangan dan ditiriskan. Setelah itu di cetak membentuk bongkahan besar yang biasa disebut ompak karena bentukknya seperti penyangga tiang pada rumah joglo dan dibungkus daun pisang lalu dikukus hingga matang. Growol biasa dinikmati dengan urap kelapa, makanan ini juga biasa sigunakan sebagai makanan utama bagi orang daerah purworejo yang sedang puasa mutih (puasa tidak makan nasi dan garam, biasanya dilakukan pada bulan suro).
Gathot, juga terbuat dari ketela yang difermentasi rasanya kenyal dan tidak berbau seperti growol. Bedanya ketela di kokrok (diparut besar-besar), cara fermentasinya juga dengan direndam air tetapi tidak sampai hancur dan ditiriskan beberapa hari sehingga warnanya kecoklatan. Pengilahannya juga dengan dikukus.
Dawet ireng, minuman yang sedang naik daun di purworejo ini juga dapat ditemukan dengan mudah di pasar jenar dengan harga yang terjangkau. Jika anda beli di sepanjang jalan utama Purworejo satu porsi berkisar 5.000 hungga 10.000 rupiah, di pasar jenar dawet ireng bisa diperoleh dengan harga Rp 2.000 jauh lebih murah dengan rasa yang mantap.

Selain makanan – makanan diatas sebenarnya masih banyak makanan tradisional yang bisa didapatkan di pasar jenar. Jika anda ingin berburu panganan tradisional Purworejo tidak salah jika mendatangi pasar Jenar, tapi jangan kesiangaan karena pasar ini hanya rame di pagi hari, apalagi jika musim panen padi jajanan pasar banyak diborong untuk bekal ke sawah.

Rabu, 08 Mei 2013

Dawet Purworejo

Purworejo sebuah kabupaten kecil di tepi samudra hindia memiliki banyak potesi yang belum tergali, dari wisata budaya, wisata alam, kuliner, hingga peternakan kambing peranakan etawa/PE. Wisata kuliner di Purworejo tidak terlalu banyak tetapi jarang dijumpai di wilayah lain, salah satu yang terkenal adalah dawet ireng. Dawet ini sangat mudah ditemukan di Purworejo, mulai dari tepi kota hingga dalam kota. Hampir disetiap ruas jalan utama purworejo bertebaran penjual dawet ireng. Dinamakan dawet hitam karena warnanya memang hitam, warna hitam pada dawet yang asli tidak menggunakan pewarna sintetis melainkan berasal dari sari abu kulit durian atau abu uman (tangkai padi). Sehingga selain memberi warna juga akan memberi aroma dan rasa yang khas. Durian juga merupakan buah yang akrab dengan kabupaten Purworejo.
                                                                 Dawet ireng

Sebagai warga asli purworejo saya  saya belum menemukan bagaimana dawet ireng ini menjadi identik dengan kabupaten Purworejo. Saya lahir dan besar di Purworejo, jaman saya kecil penjual dawet ireng tidak banyak. Dawet ini bahkan tidak populer. Dawet ireng baru populer sekitar awal atau bahkan pertengahan tahun 2000an, seingat saya saat lulus SMA (tahun 2003) dawet ini belum populer dan setelah saya lulus kuliah (tahun 2008) dawet ini telah menjamur disegala penjuru purworejo.
Sebenarnya selain dawet ireng ada dawet jenis lain yang tak kalah enaknya di Purworejo, diantaranya dawet pasar baledono dan dawet pikul (entah sebenarnya dawet apa tapi dari kecil saya menyebutnya dawet pikul.
                                                             Dawet Pasar Baledono

Dawet pasar Baledono, seperti namanya paling mudah ditemukan di pasar Baledono yang terletak di pusat kota purworejo di lantai 2 bisa detemukan banyak penjual dawet ini. Dawet ini telah saya kenal dari masih kecil, bahkan juga menjadi kesaksian kenakalan saya sewaktu SMP. Hampir setiap bolos sekolah yang dituju adalah dawet pasar baledono. Kekhasan dawet ini malah melebihi dawet ireng. Di dalam dawet tidak hanya berisi cendol (warna cendol biasanya bermacam - macam) melainkan juga terdapat cincau hijau, tape ketan (biasanya berwarna hijau dengan pewarna alami daun suji), santan, juruh (nira kelapa yang dimasak dan hampir menjadi gula/kalau sekarang dibalik: dibuat dari gula jawa yang dipanaskan hingga mengental) dan yang paling sering dianggap aneh karena ditambahkan bubur sumsum (bubur tepung beras). Karena bahannya yang bermacam - macam dawet ini juga biasa disebut dawet campur. Karena dawet ini telah saya kenal akrab sejak kecil, saya lebih menganggapnya sebagai dawet asli purworejo bila dibandingkan dengan dawet iteng.
                                                                       Dawet Pikul

Dawet ketiga, dawet pikul. Dawet ini sudah tak pernah saya temukan lagi. Dulu dawet pikul biasa dijajakan berkeliling, seperti namanya juga, dijajahkan dengan cara dipikul. dawet diletakkan pada wadah yang terbuat dari tanah liat. Dawet pikul cukup seberhana seperti halnya dawet ireng hanya biasanya cendolnya berwarna jernuh. Pedagang dawet ini ada yang pedagang tetap dan pedagang musiman. Pedagang musiman hanya berdagang disaat musim panen tiba. Saat panen, buruh pemetik padi (disebut derep) biasa membeli dawet dengan cara barter, membayar dawet dengan padi sehingga pedagang dawet saat berangkat membawa dawet ketika pulang membawa padi.
Ada satu lagi dawet yang mulai tren di Purworejo, dawet ganyong. Bagi saya dawet ini tidak istimewa karena saya saat kecil mengenal dawet ya terbuat dari pati (amilum) umbi ganyong (Canna sp ) lain dengan dawet kini yang terbuat dari tepung terigu. Entah kalau di daerah lain, karena di daerah lain saya tidak menemukan ganyong sebagai makanan (hanya sebagai tanaman hias).