Hari raya Savalatri merupakan hari Pejagran, dimana Hyang
Widhi (Tuhan yang Maha Esa, dalam kepercayaan hindu) memanifestasikan diri
sebagai dewa siwa yang melakukan yoga semalam suntut untuk melebur dosa
manusia. Pada malam Savalastri ini setiap insan mendapat kesempatan melebur
segala dosa dengan melakukan brata sawaratri. Dalam kitab Padma Puraya disebutkan
malam siwalastri adalah malam peleburan dosa manusia yang pernah dilakukan
sepanjang hidupnya dan lontar Lubdaka yang menyatakan bahwa walaupun seseorang
sangat berdosa, tapi jika ia melaksanakan brata sawarastri niscaya masih
memiliki kesempatan melebur semua dosanya.
Dikisahkan bahwa Lubdaka adalah seorang pemburu binatang
hutan, hasil buruannya tidak hanya untuk dimakan sendiri tetapi juga untuk
dijual. Pada suatu hari lubdaka tidak mendapat seekorpun binatang,Lubdaka terus
masuk kedalam hutan untuk mendapat buruan hingga tanpa sadar hari telah menjadi
gelap. Karena hari sudah gelap dan dia tidak bisa melihat jalan pulang, Lubdaka
memutuskan untuk menginap di hutan. Lubdaka mencari pohon besar yang bisa
digunakan untuk tidur supaya tidak diserang binatang hutan.
Lubdaka menemukan pohon Bila besar ditepi telaga jernih.
Lubdaka segera memanjat pohon dan mencari batang yang bisa digunakan untuk
beristirahat. Meskipun sangat lelah dan mengantuk Lubdaka berusaha tidak
tertidur karena jika tertidur dia takut akan terjatuh. Agar tidak tertidur
Lubdaka memetik daun dan rantig kecil dan menjatuhkan ke telaga berulang kali.
Lubdaka lupa bahwa malam ini adalah malam siwalastri.
Sambil membuang daun ke telaga Lubdaka teringat dosa-dosa
yang pernah dilakukan dan menyesalinya. Diam-diam Lubdaka bertekat akan
berhenti sebagai pemburu. Tanpa disadari hari telah menjelang pagi. Lubdaka
menyadari ternyata dosanya sangat benyak sehingga waktu semalam tidak cukup
untuk mengingat semua dosa-dosanya. Karena hari telah pagi Lubdaka segera
berkemas untuk pulang.
Sejak saat itu Lubdaka tidak lagi berburu dan beralih
pekerjaan sebagai petani. Karena sering berburu yang memerlukan banyak
kecakapan dan sekarang menjadi petani yang melakukan pekerjaan monoton dan
kurang gerak tubuh Lubdaka menjadi kaku dan sering sakit dan akhirnya Lubdaka
meninggal.
Roh Lubdaka setelah lepas dari jasad melayang-layang
diangkasa dan tidak tau harus menuju ke mana. Pasukan Cikrabala menghampiri dan
akan membawa ron Lubdaka ke neraka. Pada saat yang tepat Dewa Siwa datang
mencegah pasukan Cikrabala meneruskan maksudnya. Terjadilah diskusi antara dewa
siwa dan pasukan cikrabala. Pasukan cikrabala berpendapat ruh Labdaka harus
dibawa ke neraka karena semasa hidup telah membunuh banyak binatang. Dewa siwa
beranggapan lain, karena pada suatu malam savalastri Labdaka sudah bergadang
semalaman untuk menyesali seluruh dosa-dosanya sehingga dia pantas diampuni dan
masuk surga. Setelah diskusi tersebut akhirnya labdaka dibawa ke surga.
baca juga
kisah jayaprana dan layonsari
menghapus identitas ktp
surga dihidupku
baca juga
kisah jayaprana dan layonsari
menghapus identitas ktp
surga dihidupku