Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label dongeng. Tampilkan semua postingan

Jumat, 10 Maret 2017

Pemburu yang Masuk Surga ‘I Lubdaka”

Hari raya Savalatri merupakan hari Pejagran, dimana Hyang Widhi (Tuhan yang Maha Esa, dalam kepercayaan hindu) memanifestasikan diri sebagai dewa siwa yang melakukan yoga semalam suntut untuk melebur dosa manusia. Pada malam Savalastri ini setiap insan mendapat kesempatan melebur segala dosa dengan melakukan brata sawaratri. Dalam kitab Padma Puraya disebutkan malam siwalastri adalah malam peleburan dosa manusia yang pernah dilakukan sepanjang hidupnya dan lontar Lubdaka yang menyatakan bahwa walaupun seseorang sangat berdosa, tapi jika ia melaksanakan brata sawarastri niscaya masih memiliki kesempatan melebur semua dosanya.
Dikisahkan bahwa Lubdaka adalah seorang pemburu binatang hutan, hasil buruannya tidak hanya untuk dimakan sendiri tetapi juga untuk dijual. Pada suatu hari lubdaka tidak mendapat seekorpun binatang,Lubdaka terus masuk kedalam hutan untuk mendapat buruan hingga tanpa sadar hari telah menjadi gelap. Karena hari sudah gelap dan dia tidak bisa melihat jalan pulang, Lubdaka memutuskan untuk menginap di hutan. Lubdaka mencari pohon besar yang bisa digunakan untuk tidur supaya tidak diserang binatang hutan.
Lubdaka menemukan pohon Bila besar ditepi telaga jernih. Lubdaka segera memanjat pohon dan mencari batang yang bisa digunakan untuk beristirahat. Meskipun sangat lelah dan mengantuk Lubdaka berusaha tidak tertidur karena jika tertidur dia takut akan terjatuh. Agar tidak tertidur Lubdaka memetik daun dan rantig kecil dan menjatuhkan ke telaga berulang kali. Lubdaka lupa bahwa malam ini adalah malam siwalastri.
Sambil membuang daun ke telaga Lubdaka teringat dosa-dosa yang pernah dilakukan dan menyesalinya. Diam-diam Lubdaka bertekat akan berhenti sebagai pemburu. Tanpa disadari hari telah menjelang pagi. Lubdaka menyadari ternyata dosanya sangat benyak sehingga waktu semalam tidak cukup untuk mengingat semua dosa-dosanya. Karena hari telah pagi Lubdaka segera berkemas untuk pulang.
Sejak saat itu Lubdaka tidak lagi berburu dan beralih pekerjaan sebagai petani. Karena sering berburu yang memerlukan banyak kecakapan dan sekarang menjadi petani yang melakukan pekerjaan monoton dan kurang gerak tubuh Lubdaka menjadi kaku dan sering sakit dan akhirnya Lubdaka meninggal.

Roh Lubdaka setelah lepas dari jasad melayang-layang diangkasa dan tidak tau harus menuju ke mana. Pasukan Cikrabala menghampiri dan akan membawa ron Lubdaka ke neraka. Pada saat yang tepat Dewa Siwa datang mencegah pasukan Cikrabala meneruskan maksudnya. Terjadilah diskusi antara dewa siwa dan pasukan cikrabala. Pasukan cikrabala berpendapat ruh Labdaka harus dibawa ke neraka karena semasa hidup telah membunuh banyak binatang. Dewa siwa beranggapan lain, karena pada suatu malam savalastri Labdaka sudah bergadang semalaman untuk menyesali seluruh dosa-dosanya sehingga dia pantas diampuni dan masuk surga. Setelah diskusi tersebut akhirnya labdaka dibawa ke surga.

baca juga
kisah jayaprana dan layonsari
menghapus identitas ktp
surga dihidupku 

Kisah Jayaprana dan Layonsari (cerita rakyat bali)

Pada jaman dahulu kala, ada sebuah kerajaan kecil di Bali utara yang bernama kerajaan Wanekeling Kalianget. Di kerajaan itu hidup keluarga sederhana terdiri dari suami istri dengan tiga oranga anak, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan. Pada suatu masa terjadi wabah penyakit yang merenggut banyak nyawa dan keluarga tersebut hanya tersisa si bungsu yang bernama I nyoman Jayaprana.
Raja merasa berduka atas musibah penyakit tersebut dan memutuskan untuk keliling negri. Saat berada di dusun Jayaprana raja merasa iba melihat Jayaprana yang sedang menangisi kematian kedua orang tua dan saudaranya. Raja menjadi teringan dengan mendiang anaknya yang juga meninggal karena wabah penyakit sehingga raja memutuskan mengangkat Jayaprana sebagai anak.
Jayaprana dibawa ke istana, diperlakukan sebagai pangeran dan tumbuh menjadi pemuda yang pandai bertarung dalam lingkungan istana. Karena ketampananya banyak gadis yang menyukai  Jayaprana. Raja meminta Jayaprana untuk memilih salah satu gadis sebagai pendampingnya. Mula-mula Jayaprana menolak karena belum ingin menjalin hubungan asmara tetapi raja terus mendesak, dan Jayaprana akhirnya menurut.
Pada suatu hari Jayaprana berjalan-jalan di pasar dekat istana dan melihat gadis-gadis berlalu lalang di sana. Jayaprana terpanan pada gadis penjual bunga anak Jero Bandeso dari Banjar Sekar. Nama gadis tersebut Ni Komang Layonsari. Jayaprana terus mengamati gadis tersebut, Layonsari yang merasa diperhatikan berusaha menghindar dengan masuk ke kerumunan orangan.
Setelah kehilangan jejak Layonsari, Jayaprana kembali ke istana dan menemui raja melaporkan bahwa dia telahmenemukan gadis pujaan hati. Raja merasa senang dan membuatkan surat untuk diantar Jayaprana ke Jero Bandeso. Jayaprana segera mengantar dan menyerahkan surat tersebut. Jero Bandeso segera membaca surat yang isinya lamaran untuk Layongsari. Jero Bandeso menyatakan kesediaanya menerima lamaran tersebut, Jayaprana segera kembali ke istana dengan hati berbunga-bunga.
Setiba di istana raja sedang rapat dan Jayaprana menyela rapat untuk menyampaikan kabar genbira tersebut. Raja tak kalah bahagia dan langsung membuat pengumuman kepada yang hadir di rabat bahwa beliau akan membuat upacara perkawinan Jayaprana dengan Layosari pada hari selasa legi wuku kuning. Raja juga memerintahkan kepada segenap  perbekel untuk mulai mendirikan bangunan-bangunan rumah, balai-balai selengkapnya untuk Jayaprana.
Tibalah hari perkawinan, Jayaprana dengan diiringi oleh masyarakat desanya pergi ke rumah Jero Bandeso untuk menjemput Layongsari dengan upacara adat selengkapnya. Di istana, raja sedang duduk di singgasana, dihadapanya ada para pegawai kerajaan dan juga para perbekel. Kemudian tibalah rombongan jayaprana  dengan kedua didalam kereta. Mempelai segera turun dan menyembah raja. Raja terpesona dengan kecantikan Layongsari hingga tidak mampu berkata apa-apa.
Raja yang telah lama kehilangan permaisurinya diam-diam tumbuh benih cinta terhadap Layongsari. Raja yang semula adalah raja bijaksana menjadi gelap mata karena cintanya terhadap Layongsari. Raja diam-diam menyusun strategi untuk membunuh Jayaprana supaya dapat memperistri Layongsari. Raja kemudian memerintahkan patin kerajaan yang bernama Sawung Galih untuk melaksanakan strategi tersebut. Sawung Galih menolak tugas tersebut, tetapi raja mengatakan bahwa dia akan mati karena bersedih jika tidak bisa memperistri Layonsari. Sebagai abdi seti Sawunggalih pun menuruti titah baginda.
Strategi raja untuk membunuh Jayaprana adalah memerintahkan Jayaprana untuk pergi ke teluk trima untuk menyelidiki perahu yang hancur oleh orang Bajo yang menembak binatang diwilayah Pengulon.
Pada hari ketujuh pernikahannya, Jayaprana diminta menghadap raja. Jayaprana segera datang menghadap. Raja menceritakan kalau diwilayah perbatasan ada pemberontakan dan raja memerintahkan Jayaprana memimpin rombongan bersama patih Sawunggalih untuk menyelidiki di perbatasan teluk trima.
Sesampainya di rumah Jayaprana menceritakan perintah raja kepada istrinya. Malam harinya Layonsari bermimpi ada banjir bandang yang menghanyutkan rumah mereka, begitu terbangun dia menceritakan mimpi buruk itu ke suaminya. Dia meminta Jayaprana mengurungkan kepergiannya  karena merasa mimpi tersebut adalah firasat buruk. Tetap jayaprana tidak berani menolak titah raja.
Pagi harinya Jayaprana pergi sesuai titah raja. Sepanjang jalan hatinya tidak tenang, dia merasa ada hal buruk yang akan terjadi padanya.  Sesampainya di hutan teluk trima patih sawunggalih menyerang Jayaprana. Karena ilmu Jayaprana lebih tinggi patih tidak mampu mengalahkan Jayapranan. Jayaprana kebingungan dengan serangan patih sawunggalih dan bertanya kenapa sang patih menyerangnya. Sang patih menyerahkan suran raja kepada jayaprana yang isinya:
Hai engkau Jayaprana.
Manusia tiada Guna.
Berjalan-jalanlah engkau.
Akulah yang memerintahkan membunuhmu.
Dosamu sangat besar.
Kau telah melampaui tingkah raja.
Istrimu sungguh milik orang besar.
Kuambil kujadikan istri raja.
Serahkanlah jiwamu sekarang.
Jangan engkau melawan.
Loyangsari jangan kau kenang.
Kuperistri sampai akhir jaman.
Jayaprana menagis membaca surat tersebut. Lakukanlah titah raja, patih. Hamba siap dicabut nyawanya demi kepentingan raja. Dulu beliau yang merawat dan membesarkan hamba. Jika sekarang beliau menginginkan nyawa hamba maka akan hamba persembahkan. Jayaprana menyerahkan keris saktinya yang bisa digunakan untuk membunuhnya.. beliau berpesan agar keris dan berita kematianya dikabarkan kepada isstrinya , bahwa kematiannya sebagai bukti baktinya pada titah raja.
Dengan keris milik Jayaprana patih Sawunggalih bisa membunuh Jayaprana dengan mudah. Ketika keris dihujamkan dan dicabut darah mengucur dengan deras dan yang tercium bukan bau amis melainkan bau wangi. Alam ikut menangisi kematian Jayaprana, tiba-tiba terjadi gempa bumi, angin topan, hujan bunga dan binatang ikut menangis.
Setelah jasad Jayaprana dikubur rombongan kembali ke istana dengan hati sedih. Ditengah perjalanan muncul harimau putih menyerang rombongan. Banyak anggota rombongan yang tewas termasuk patih Sawunggalih.
Setibanya rombongan yang mengabarkan kematian Jayaprana, raja segera menemui Layonsari untuk menyampaikan kabar duka sekaligus melamar Layonsari untuk menjadi istrinya. Layonsari tidak percaya dengan kabar itu. Raja kemudian menunjukkan keris Jayaprana yang berlumuran darah. Layonsari menangis histeris, memaki raja dan merebut keris Jayaprana kemudian menusukkan keris tersebut ke jantungnya. Layonsari tewas seketika dan dari tubuhnya mengeluarkan aroma wangi yang menyebar ke pelosok negri hingga ke tempat jasad Jayaprana dikuburkan.
Jasad Layonsari kemudian dikuburkan bersebelahan dengan Jayaprana. Jasad sawunggalih juga dimakamkan didekat makam keduanya sebagai lambang kesetiaan terhadap titah raja.
Raja yang melihat Layonsari menikam jantungnya dengan keris menjadi sangat sedih dan gelap hati. Raja mengamuk membunuh semua pengiring dan semua penghuni rumah. Setekah itu raja menikan jantungnya sendiri hingga tewas. Pengikut raja tidak percaya raja bunuh diri dan menganggap rakyat yang telah membunuh raja. Para pengikut setia raja segera keluar istana untuk membalas dendam dengan membunuh rakyat. Rakyat tidak terima dan melakukan perlawanan. Terjadilah perang saudara yang mengakibatkan seluruh rakyat kalianget tewas dalam sehari. Wilayah kalianget menjadi daerah tanpa penghuni dengan mayat bergelimpangan dam bersimbah darah. Seiring berjalanya waktu daerah tersebut akhirnya berubah menjadi hutan belantara hingga kemudian datang orang dari daerah lain untuk menetap dan membuka lahan.

Begitulah manusia yang tidak bisa mengendalikan nafsu bisa membinasakan suatu negara.

Minggu, 16 Maret 2014

Surga di Hidupku

Di desa Ekayasa, negeri Maya hidup pak Mukti sekeluarga. Mereka bekerja sebagai petani, harta yang dimiliki sebuah gubuk reot dan sepetak tanah yang tidak begitu subur. Walau sederhana hidup mereka bahagia, hasil panen selalu cukup hingga panen berikutnya.

Setelah musim tanam pak Mukti mengisi waktu dengan menjerat rusa di hutan kecil dekat rumah.
"Alhamdulillah, benar-benar hari keberuntunganku! Baru satu jam jerat kupasang sudah ada rusa terperangkap!" kata pak mukti sambil menangkap hewan buruanya.
Tiba-tiba rusa berkata "Pak tolong lepaskan saya, jika dilepaskan saya mengabulkan seluruh permintaan bapak"
pak mukti terkejut dan merasa iba dengan rusa ajaib tersebut, mungkin saja rusa itu punya keluarga sepertinya dan tak ingin berpisah "baiklah silahkan pergi kembali berkumpul dgn keluargamu".
Apa permintaanmu pak? Tanya rusa.
"Saat ini saya tak ingin minta apapun, bertemu denganmu sudah sebuah keajaiban" jawab petani baik hati tersebut.
"terima kasih, jika sewaktu-waktu butuh bantuan pergilah ke tempat ini dan panggil aku Anju, aku akan datang" kata rusa sambil berlari ke tengah hutan.

pak mukti pulang dan menceritakan kejadian yg dialami pd istrinya. sang istri sangat bahagia memiliki suami baik budi seperti pak mukti.
hari terus berlalu, menjelang musim panen padi yang mereka tanam rusak dimakan tikus. mereka sangat sedih, "bu kita bisa tidak punya persediaan makanan untuk musim kemarau mendatang"
"pak kenapa tidak minta bantuan rusa ajaib agar tikus tak lagi merusak ladang kita?" usul bu mukti.
"ide bagus bu, ayo kita ke hutan" dengan bergandengan tangan mereka pergi ke hutan.

"Anju, anju". Panggil pak tani.
Rusa menepati janji datang memenuhi panggilan pak mukti, "apa yang bisa saya bantu, pak?"
pak mukti menceritakn kondisi lahan yang digarapnya.
"baiklah, bapak pulang dan lihat kebun kalian besok pagi"
mereka pulang dengan hati gembira.

Hari berikutnya selepas subuh menengok lahan dan sgt bersyukur melihat padi terhampar utuh bahkan lebih lebat dari biasanya. Hasil panen tahun ini melimpah ruah.
"Rumah kita terlalu semit untuk menyimpan padi-padi ini" keluh pak tani.
"Aku akan minta rusa memperbesar rumah ini", lanjutnya.
Rusa kembali menepati janji, rumah pak mukti menjadi besar dan indah.
Saat musim tanam berikutnya bu mukti merasa lahanya terlalu sempit dan
minta lahan yang luas. Permintaan itu terkabul. Setelah lahan luas mereka
kewalahan dan menginginkan pekerja, permintaan itu juga terkabul.
Semakin lama kehidupan mereka semakin mewah. Di sisi lain timbul makin
banyak keinginan, hingga suatu saat mereka kembali menemui rusa, "rusa
kami ingin tinggal di surga. Di surga semua kesenangan akan terpenuhi jadi kami tak akan mengajukan permintaan lagi padamu"
"baiklah kalau itu yg kalian inginkan, kembalilah ke rumah kalian. Surga
sudah menanti di sana" jawab rusa.
Dengan gembira suami istri tersebut berlari pulang. Alangkah terkejutnya
rumah indah mereka telah kembali menjadi gubuk reot, lahan yang luas telah
menyempit dan sisanya menjadi padang ilalang, semua pekerja dan pelayan
juga lelah menghilang.
Mereka termenung dan menyadari, selama ini mereka telah hidup di surga.
Hidup penuh rasa syukur dan kebahagiaan, bukan hidup mewah bergelimang
harta.

Apa yang Tuhan berikan adalah yang terbaik.
Ya Allah jadikan aku hamba yang pandai bersukur.