Purworejo, punya sejarah panjang bisa ditelusuri dari
peninggalan megalitikum, jaman kerajaan Jawa, jaman kolonial Belanda hingga
masa sekarang. Nama Purworejo sendiri baru muncul jauh setelah wilayah ini
ramai. Dahulu dikenal dengan daerah Bagelen (saat ini nama Bagelen hanya untuk
nama sebuah kecamatan) dengan sungai Bogowonto yg melegenda, bahkan konon saat
jaman kejayaan agama Budha di jawa, sungai Bkemn dengan sungai
Gangga di India. Nama Bogowonto diyakini berasar dari kata begawan karena dulu
di sekitar sungai ini banyak ditemui Begawan (pendeta Budha) yang bertapa.
Saat ini saya tidak akan bercerita tentang Purworejo maupun
bagelen, melainkan hanya akan bercerita tentang desa kelahiranku
“Cengkawakrejo”. Sejak 2 tahun lalu beberapa kali saya coba mencari di mbah
google tentang cengkawakrejo tapi tak pernah mendapatkan cerita masalalu yang
berarti. Sangat berbeda dengan desa-desa disekitarnya seperti Semawung, Piji,
Soko, Bragolan, Candisari, Plandi dan lain-lain yang memiliki cerita dari jaman
kerajaan Mataram maupun jaman penjajahan.
Secara administratif desa Cengkawakrejo termasuk dalam
kecamatan Banyuurip. Tapi jangan tanya tentang daerah Banyuurip karena saya
tidak banyak tahu, memang letaknya cukup jauh dari pusat kecamatan. Mungkin
sebenarnya hanya 3 km jika melalui perempatan niten, tapi jalannya sangat sepi.
Sepanjang jalan hanya mbulak (hamparan sawah), sehingga lebih sering memilih
jalan memutar melalui Boro yang tentu jaraknya menjadi berlipat-lipat (lebih
dari 4x lipat). Dari pada ke kota kecamatan jauh lebih mudah ke kota kabupaten.
Posisinya memang di kecamatan Banyuurip paling ujung,
sebelah selatan berbatasan dengan kecamatan purwodadi, sebelah timur berbatasan
dengan kecamatan Bagelen, dan sebelah timur laut dengan kecamatan Purworejo.
Untuk menuju desa ini dari pusat kota Purworejo terus ke selatan, tepatnya di
jalan raya Purworejo – Yogjakarta atau jalan raya Purworejo – Purwodadi, karena
posisinya yang di jalan Purworejo – Purwodadi banyak yang menganggap
Cengkawakrejo masuk wilayah Kecamatan Purwodadi.
Dari dulu hingga sekarang desaku masih saja sepi. Mungkin
jumlah penduduknya malah berkurang. Cengkawakrejo mempunyai dua sekolah dasar,
SDN Cengkawakrejo atau dikenal dengan SD impres dan SDN Onggosaran. Karena
jumlah siswa yang semakin menurun kedua SD kemudian digabung, SDN Onggosaran
dihilangkan, siswanya dipindah ke SD N Cengkawakrejo. Lokasi bekas SDN
Onggosaran sekarang dijadikan kantor balai desa.
Kantor balai desa yang lama ternyata berdiri di atas tanah
warga di dukuh Bowoan, sehingga sekarang menjadi rumah warga. Konon di tempat
ini dulu berdiri pasar desa “Sarkawak” orang – orang tua (usianya lebih dari 80
tahun) masih sering menyebut daerah ini dengan sebutan Sarkawak. Rumah orang
tuaku berada sekitar 80 meter dari kantor balai desa lama.
Jalan masuk desa ada 3 dari jalan raya Purworejo -
Yogyakarta:
1.
Niten, merupakan perempatan. Ke timur masuk desa
Cengkawakrejo tetapi kemudian jalan buntu. Ke barat melalui mbulak akan tiba di
pusat kecamatan Banyuurip. Ke selatan menuju jogja dan ke utara menuju
Purworejo.
2.
Ki Onggosaran berada di dukuh Onggosaran,
menilik dari namanya sepertinya ini adalah nama orang, tapi entah siapa saya
tidak pernah mendengar kisahnya. Mungkin beliau leluhur warga di sini. Jalan
ini pada akhirnya akan bergabung dengan jalan desa yang ketiga.
3.
Brug/Buh Wesi. Brug atau buh adalah sebutan
untuk jembatan kecil, dan wesi berarti besi. Jalan ini memang berada tepat di
selatan brug wesi. Jangan harap akan menemukan jembatan yang terbuat dari besi,
jembatan ini sama dengan jembatan-jembatan lain yang tersebar di pulau Jawa,
kenapa namanya brug wesi? Lihat pada cerita brug wesi. Di sebelah utara brug
wesi adalah balai desa/bekas SD Onggosaran. Jalan desa ini akhirnya bercabang,
ke kanan/selatan menuju desa lain (Sutomenggalan, Wonoganggu) dan ke kiri/timur
jalan berakhir di sungai Bogowonto.
Desaku berada ditepi sungai Bogowonto. Desa – desa
disepanjang bogowonto telah tercatat dalam sejarah kerajaan-kerajaan di jawa
(baik mataram kuno maupun mataram islam) dan tidak satupun literatur yang aku
temuni menyebutkan nama desaku. Desaku tidak dikenal. Menurutku bukan karena
desaku kala itu belum berdiri, mungkin karena dianggap tidak terlalu penting
atau mungkin menjadi satu kesatuan dengan desa lain.
Yang membuatku berpikir desaku mempunyai sejarah panjang
sama seperti desa-desa disepanjang Bogowonto yang lain adalah
1.
adanaya peninggalan megalitikum, warga
menyebutnya “watu lumpang”, batu berbentuk lumpang, alat untuk menumbuk padi. Konon
pernah ada yang mengambil batu tersebut tetapi kebudian batu itu kembali ke
tempat semula.
2.
Ada makam yang dikeramatkan, terkenal dengan
makam rujak beling. Dulu saya pernah mendengar cerita tentang makam rujak
beling yang banyak diziarahi orang dari luar desa tetapi saya sudah lupa
seperti apa ceritanya.
3.
Ada sumur tua yang disebut mbeji yang airnya tak
pernah kering dan dikeramatkan. Tentu ada cerita dibalik itu.
4.
Ada komplek makam tua. Mungkin banyak warga
cengkawakrejo yang tidak tahu. Posisinya di dukuh dongbotol. Sekitar setengah
kilometer dari komplek makam dong botol. Di dekat kompleks makam tersebut ada
bangunan peninggalan jepang, “sumur Pompo” menurut cerita dulu ada pompa air
yang mengambil air dari sungai Bogowonto untuk dialirkan ke warga. Kalau kita
kesana akan nampak dua makam biasa dengan kijing dari semen tapi jika jeli
memperhatikan daerah sekitarnya yang banyak ditumbuhi pohon jati akan nampak
nisan-nisan tua dari batu cadas yang telah rusak. Menurut simbah yang asli
dongbotol komplek makam tua itu sudah ada sejak beliau kecil dan cukup luas,
sebagian telah tak terlihat bekasnya dan telah menjadi tegalan warga, bahkan
hingga ke area tegalan yang disebut gal duwur yang ada di sebrang sungai.
Saya paling sering melalui kompleks makam tua tetapi tak pernah berani
berhenti di areal tersebut. Ada rasa yang aneh, orang jawa bilang sinup. Saya
tak berani bermain atau sekedar beristirahan di area makam tua bahkan sebelum
saya tahu disitu bertebaran batu-batu nisan tua karena derah itu dulu banyak
ditumbuhi semak belukar. Padahal saya tidak termasuk pengecut. Dari kecil saya
terbiasa dibawa bapak mencari ikan di sungai. Pada malam hari sering ditinggal
sendirian di pinggir bogowonto di bawah area makam dongbotol tanpa rasa takut
sedikitpun padahal banyak yang cerita daerah itu juga angker.
Di tahun 1990an banyak kelompok kesenian tradisional di Cengkawakrejo,
seingat saya ada dolalak putra dan putri, jaran kepang dan ketoprak. Saya masih
ingat setiap malam minggu pasti ada latihan dolalak putri. Jika bulan agustus,
selama sebulan penuh selalu banyak kegiatan. Siang hingga sore rame kegiatan
untuk anak-anak, dari pentas seni anak TK, SD sampai masyarakat umum dan aneka
lomba untuk anak-anak, ibu-ibu PKK maupun karang taruna. Malam hari akan ada
pertunjukan kesenian ketoprak, dolalak, jaran kepang yang dilakukan bergantian.
Akhir tahun 90an kondisi keamanan sangat memprihatinkan, banyak pemuda
yang mabuk-mabukan dan setiap ada pertunjukan kesenian selalu diakhiri dengan
perkelahian sehingga pertunjukan malam dilarang. Kerusuhan menjadi lebih parah
karena banyak pemuda yang berteman dengan anak-anak pesisis pantai selatan
(sejak dulu preman pantai selatan sudah terkenal kejam bahkan jika di daerah
jalan raya dendles ada perampokan ataupun pembunuhan di malam hari polisi baru
berani datang setelah hari terang). Sedangkan warga desa yang umumnya petani hanya
punya waktu mengembangkan kesenian ataupun sekedar menikmati pertunjukan di
malam hari. Akhirnya satu persatu kelompok kesenian membubarkan diri.
Bahkan
karena ulah warga, pabrik kayu yang ada di dekat jalan ki onggosaran menjadi
bangkrut dan tutup. Bagaimana pabrik tidak rugi jika banyak warga yang meminta
kayu ke pabrik bahkan ada warga yang terang-terangan mengambil alat-alat
pabrik. Dengan ditutupnya pabrik banyak warga menjadi pengangguran dan merantau
ke daerah lain. Karena jumlah pemuda banyak berkurang keamanan desa berangsur
angsur pulih kembali.